Ketujuh langkah tersebut dapat diuraikan
sebagai berikut:
1. Penjajagan (tuning)
Penjajagan yang stilah Inggrisnya
"tuning" mengingatkan kita kepada pencarian gelombang yang
tepat waktu kita menyetel radio atau kepada pencarian nada yang tepat dengan
mengetok garpu tala waktu kita akan menyanyi.
Bila kita akan menerjemahkan, kita pun
terlebih dahulu harus melakukan "tuning", yaitu menjajaki
bahan yang akan kita terjemahkan. Sebab bahasa terjemahan harus selaras dengan
bahasa yang diterjemahkan dalam hal makna dan gayanya, maka kita terlebih
dahulu harus tahu bahan yang hendak diterjemahkan itu bahasa siapa: bahasa
seorang pujanggakah, seorang noveliskah, seorang ahli hukumkah, seorang penulis
penelitian ilmiahkah, seorang penulis esaikah, seorang manajer pabrikkah,
seorang penulis iklankah, dan sebagainya. Ragam bahasa terjemahan yang tepat
harus sudah dapat ditentukan sejak permulaan. Sebuah sanjak harus menjadi
sebuah sanjak, bukan sebuah prosa. Sebuah sanjak ekspresionis harus menjadi
sebuah sanjak ekspresionis, bukan sebuah sanjak impresionis. Sejak semula
seorang penerjemah harus dapat menentukan sikap atau pendekatan mental yang
tepat, harus dapat membayangkan pilihan kata atau susunan frase dan kalimat
yang selaras.
Isi bahan yang akan diterjemahkan mungkin
belum seluruhnya dipahami pada taraf permulaan, tetapi nada harus sudah selaras
sejak permulaan di pikiran dan hati penerjemah. Bila perlu, penerjemah
berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengarang, atau seseorang yang ahli, atau
membaca suatu karya tulis lain sebagai latar belakang. Bandingkan dengan
pentingnya keselarasan gelombang pada radio bila ingin mendengarkan suatu
siaran atau keselarasan nada bila kita ingin menyanyi atau memainkan instrumen.
Bila gelombang sudah selaras, volume suara
tinggal dikeraskan. Bila nada sudah selaras, sebuah lagu tinggal dipergelarkan.
Tetapi bagi seorang penerjemah, bila ia sudah dapat menggambarkan nada yang
selaras, ia masih perlu persiapan lebih lanjut, yaitu penguraian (analisis).
2. Penguraian (analyzing)
Sesudah penerjemah menyetel gelombang
radionya secara tepat, ia perlu melakukan analisis. Apa yang harus dianalisis?
Apa yang harus diurai? Tiap-tiap kalimat dalam bahasa sumber harus diurai ke
dalam satuan-satuan berupa kata-kata atau frase-frase. Kemudian penerjemah
harus dapat menentukan hubungan sintaksis antara pelbagai unsur kalimat itu.
Pada tahap ini, perlu juga penerjemah sudah dapat melihat hubungan antara
unsur-unsur dalam bagian teks yang lebih besar agar penerjemah mulai dapat
berpikir untuk menciptakan konsistensi dalam terjemahannya. Analisis ini masih
perlu berlanjut dalam tahap Pemahaman dan Peristilahan. Bila istilah-istilah
yang dipakai konsisten, yaitu tidak berganti-ganti istilahnya, lebih-lebih
tidak berganti-ganti arti istilah yang dipakai, maka terjemahan lebih mudah
dipahami.
3. Pemahaman (understanding)
Setelah penerjemah melihat satuan-satuan
dalam setiap kalimat dan unsur-unsur dalam bagian teks yang lebih besar,
sekarang penerjemah berusaha memahami isi bahan yang akan diterjemahkan. la
harus menangkap gagasan utama tiap paragraf (alinea) dan ide-ide pendukung dan
pengembangnya; ia harus menangkap hubungan gagasan satu sama lain dalam tiap
paragraf dan antarparagraf. Seorang penerjemah yang ideal adalah seseorang yang
sebidang ilmu dengan pengarang yang akan diterjemahkan, sekurang-kurangnya
harus mempunyai pengetahuan umum yang memadai. Sebenarnya, selain penerjemah
perlu menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diterjemahkan, ia juga harus
benar-benar memahami bahasa sumbernya. Ilmu pengetahuan yang akan diterjemahkan
itu harus diterjemahkan sebagaimana ditulis oleh pengarang. Janganlah
penerjemah menjadi pengarang sendiri meskipun ia sebidang ilmu dengan pengarang
aslinya. Penerjemah mungkin mengatakan sesuatu yang benar tetapi tidak terdapat
dalam buku aslinya, maka ia tidak menerjemahkan. Bila perlu, penerjemah harus
mengkonsultasikan sebuah kalimat atau ungkapan yang tidak diketahui maksudnya.
4. Peristilahan (terminology)
Setelah pemahaman isi dan bentuk dalam
bahasa sumber, penerjemah kemudian berpikir tentang pengungkapannya dalam
bahasa sasaran (bahasa terjemahan). Terutama ia akan mencari istilah-istilah,
ungkapan-ungkapan dalam bahasa sasaran (misalnya bahasa Indonesia) yang tepat,
cermat, dan selaras. Kata, ungkapan atau istilah yang dipakai dalam bahasa
sasaran jangan sampai menyesatkan, menertawakan, atau menusuk hati pemakai
bahasa sasaran. Sekali lagi, konsultasi dengan orang lain yang ahli dapat
sangat berguna untuk membantu penerjemah bila ia menghadapi masalahmasalah
kebahasaan seperti itu.
5. Perakitan (restructing)
Perakitan atau istilah Inggrisnya:
restructuring. Dalam bidang industri mobil, misalnya, merakit berarti menyusun
suku-suku cadang menjadi produk yang dikehendaki, mobil. Setelah masalah bahasa
sasaran diatasi dan semua "batu bata" yang diperlukan untuk menyusun
"bangunan" dalam bahasa sasaran tersedia, terkumpul, maka penerjemah
tinggal menyusun batu-batu bata itu menjadi bangunan yang selaras dengan
norma-norma atau kaidahkaidah dalam bahasa sasaran. Bentuk bangunan itu, selain
harus selaras dengan pemakai bahasa sasaran, juga harus menerjemahkan secara
tepat makna dan gaya bahasa sumber. Bila bangunan dalam bahasa sumber bercorak
gaya naturalis, bangunan dalam bahasa sasaran juga harus naturalis.
6. Pengecekan (checking)
Sebagaimana sebuah karangan yang baik
kerap kali merupakan hasil revisi berkali-kali, demikian juga sebuah terjemahan
yang berhasil. Yang jelas, janganlah menganggap pekerjaan penerjemahan selesai
bila baru menghasilkan draft pertama. Draft pertama harus diperiksa
kesalahan-kesalahannya dalam penulisan kata dan pe- makaian tanda baca, harus
diperbaiki susunan-susunan kalimatnya untuk menghasilkan kalimat yang lebih
efektif. Seringkali, orang lain pun perlu diminta untuk mengecek dan
menyarankan perubahan-perubahan. Bila ada perubahan-perubahan, tentu saja harus
disetujui oleh penerjemah. Jangan sampai kekurangan-kekurangan yang terjadi
akibat perubahan dari orang lain tanpa pengetahuan penerjemah ditanggungkan
padanya kelak bila terjemahan itu sudah diterbitkan.
7. Pembicaraan (discussing)
Cara yang baik untuk mengakhiri proses penerjemahan
ialah penerjemah mendiskusikan hasil terjemahannya, baik menyangkut isinya
maupun menyangkut bahasanya. Memang tidak perlu sebuah panitia untuk
memperbaiki hasil terjemahan. Terlalu banyak orang yang berbicara, hanya akan
merusakkan. ‚Terlalu banyak koki hanya akan merusakkan kaldu,‛ kata Nida dan
Taber.
Selain itu terdapat Langkah-langkah
penting dalam proses penerjemahan. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam
melakukan proses penerjemahan? Mungkin ada beberapa tips di bawah ini yang baru
bagi anda:
1. Terjemahkan kalimat sesuai dengan gaya
bahasa yang akan diterjemahkan.
2. Perhatikan konsistensi dari peristilahan
yang sering digunakan.
3. Setelah suatu dokumen diterjemahkan semua,
gunakan waktu untuk membaca seluruh dokumen yang sudah diterjemahkan dengan
hati-hati tanpa membandingkannya dengan dokumen asli untuk memastikan bahwa
kalimat-kalimatnya dapat dimengerti dengan jelas dan tidak bermakna ganda.
4. Minta orang lain yang tidak menerjemahkan
dokumen yang anda buat, untuk memastikan bahwa mereka juga mengerti dokumen
yang diterjemahkan dengan jelas dan tidak memiliki pengertian ganda.
5. Kejanggalan dan pengertian yang berbeda
antara si penerjemah dengan si pembaca harus diselesaikan melalui meeting
sebelum hasil terjemahan diserahkan ke klien.
Nida dan Taber (1969: 33), dikutip dalam
Novianti (2005: 16), membagi proses penerjemahan ke dalam tiga tahapan:
1) Analisis pesan pada bahasa sumber;
2) Transfer, dan;
3) Rekonstruksi pesan yang ditransfer ke
dalam bahasa target.
No comments:
Post a Comment