Tuesday, March 17, 2020

Menerjemahkan sebagai Proses

Dr. Ronald H. Bathgate (dalam A. Widyamartaya), dalam karnyanya yang berjudul "A Survey of Translation Theory", mengemukakan tujuh unsur, langkah, atau bagian integral dari proses penerjemahan sebagai berikut ini: 1) tuning (penjajakan) 2) analysing (penguraian) 3) understanding (pemahaman) 4) terminology (peristilahan) 5) restructing (perakitan) 6) checking (pengecekan) 7) discussing (pembicaraan) 

Ketujuh langkah tersebut dapat diuraikan sebagai berikut: 

1. Penjajagan (tuning
Penjajagan yang stilah Inggrisnya "tuning" mengingatkan kita kepada pencarian gelombang yang tepat waktu kita menyetel radio atau kepada pencarian nada yang tepat dengan mengetok garpu tala waktu kita akan menyanyi.
Bila kita akan menerjemahkan, kita pun terlebih dahulu harus melakukan "tuning", yaitu menjajaki bahan yang akan kita terjemahkan. Sebab bahasa terjemahan harus selaras dengan bahasa yang diterjemahkan dalam hal makna dan gayanya, maka kita terlebih dahulu harus tahu bahan yang hendak diterjemahkan itu bahasa siapa: bahasa seorang pujanggakah, seorang noveliskah, seorang ahli hukumkah, seorang penulis penelitian ilmiahkah, seorang penulis esaikah, seorang manajer pabrikkah, seorang penulis iklankah, dan sebagainya. Ragam bahasa terjemahan yang tepat harus sudah dapat ditentukan sejak permulaan. Sebuah sanjak harus menjadi sebuah sanjak, bukan sebuah prosa. Sebuah sanjak ekspresionis harus menjadi sebuah sanjak ekspresionis, bukan sebuah sanjak impresionis. Sejak semula seorang penerjemah harus dapat menentukan sikap atau pendekatan mental yang tepat, harus dapat membayangkan pilihan kata atau susunan frase dan kalimat yang selaras.
Isi bahan yang akan diterjemahkan mungkin belum seluruhnya dipahami pada taraf permulaan, tetapi nada harus sudah selaras sejak permulaan di pikiran dan hati penerjemah. Bila perlu, penerjemah berkonsultasi terlebih dahulu dengan pengarang, atau seseorang yang ahli, atau membaca suatu karya tulis lain sebagai latar belakang. Bandingkan dengan pentingnya keselarasan gelombang pada radio bila ingin mendengarkan suatu siaran atau keselarasan nada bila kita ingin menyanyi atau memainkan instrumen.

Bila gelombang sudah selaras, volume suara tinggal dikeraskan. Bila nada sudah selaras, sebuah lagu tinggal dipergelarkan. Tetapi bagi seorang penerjemah, bila ia sudah dapat menggambarkan nada yang selaras, ia masih perlu persiapan lebih lanjut, yaitu penguraian (analisis).

2. Penguraian (analyzing)
Sesudah penerjemah menyetel gelombang radionya secara tepat, ia perlu melakukan analisis. Apa yang harus dianalisis? Apa yang harus diurai? Tiap-tiap kalimat dalam bahasa sumber harus diurai ke dalam satuan-satuan berupa kata-kata atau frase-frase. Kemudian penerjemah harus dapat menentukan hubungan sintaksis antara pelbagai unsur kalimat itu. Pada tahap ini, perlu juga penerjemah sudah dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam bagian teks yang lebih besar agar penerjemah mulai dapat berpikir untuk menciptakan konsistensi dalam terjemahannya. Analisis ini masih perlu berlanjut dalam tahap Pemahaman dan Peristilahan. Bila istilah-istilah yang dipakai konsisten, yaitu tidak berganti-ganti istilahnya, lebih-lebih tidak berganti-ganti arti istilah yang dipakai, maka terjemahan lebih mudah dipahami.

3. Pemahaman (understanding)
Setelah penerjemah melihat satuan-satuan dalam setiap kalimat dan unsur-unsur dalam bagian teks yang lebih besar, sekarang penerjemah berusaha memahami isi bahan yang akan diterjemahkan. la harus menangkap gagasan utama tiap paragraf (alinea) dan ide-ide pendukung dan pengembangnya; ia harus menangkap hubungan gagasan satu sama lain dalam tiap paragraf dan antarparagraf. Seorang penerjemah yang ideal adalah seseorang yang sebidang ilmu dengan pengarang yang akan diterjemahkan, sekurang-kurangnya harus mempunyai pengetahuan umum yang memadai. Sebenarnya, selain penerjemah perlu menguasai bidang ilmu pengetahuan yang akan diterjemahkan, ia juga harus benar-benar memahami bahasa sumbernya. Ilmu pengetahuan yang akan diterjemahkan itu harus diterjemahkan sebagaimana ditulis oleh pengarang. Janganlah penerjemah menjadi pengarang sendiri meskipun ia sebidang ilmu dengan pengarang aslinya. Penerjemah mungkin mengatakan sesuatu yang benar tetapi tidak terdapat dalam buku aslinya, maka ia tidak menerjemahkan. Bila perlu, penerjemah harus mengkonsultasikan sebuah kalimat atau ungkapan yang tidak diketahui maksudnya.

4. Peristilahan (terminology)
Setelah pemahaman isi dan bentuk dalam bahasa sumber, penerjemah kemudian berpikir tentang pengungkapannya dalam bahasa sasaran (bahasa terjemahan). Terutama ia akan mencari istilah-istilah, ungkapan-ungkapan dalam bahasa sasaran (misalnya bahasa Indonesia) yang tepat, cermat, dan selaras. Kata, ungkapan atau istilah yang dipakai dalam bahasa sasaran jangan sampai menyesatkan, menertawakan, atau menusuk hati pemakai bahasa sasaran. Sekali lagi, konsultasi dengan orang lain yang ahli dapat sangat berguna untuk membantu penerjemah bila ia menghadapi masalahmasalah kebahasaan seperti itu.

5. Perakitan (restructing)
Perakitan atau istilah Inggrisnya: restructuring. Dalam bidang industri mobil, misalnya, merakit berarti menyusun suku-suku cadang menjadi produk yang dikehendaki, mobil. Setelah masalah bahasa sasaran diatasi dan semua "batu bata" yang diperlukan untuk menyusun "bangunan" dalam bahasa sasaran tersedia, terkumpul, maka penerjemah tinggal menyusun batu-batu bata itu menjadi bangunan yang selaras dengan norma-norma atau kaidahkaidah dalam bahasa sasaran. Bentuk bangunan itu, selain harus selaras dengan pemakai bahasa sasaran, juga harus menerjemahkan secara tepat makna dan gaya bahasa sumber. Bila bangunan dalam bahasa sumber bercorak gaya naturalis, bangunan dalam bahasa sasaran juga harus naturalis.

6. Pengecekan (checking)
Sebagaimana sebuah karangan yang baik kerap kali merupakan hasil revisi berkali-kali, demikian juga sebuah terjemahan yang berhasil. Yang jelas, janganlah menganggap pekerjaan penerjemahan selesai bila baru menghasilkan draft pertama. Draft pertama harus diperiksa kesalahan-kesalahannya dalam penulisan kata dan pe- makaian tanda baca, harus diperbaiki susunan-susunan kalimatnya untuk menghasilkan kalimat yang lebih efektif. Seringkali, orang lain pun perlu diminta untuk mengecek dan menyarankan perubahan-perubahan. Bila ada perubahan-perubahan, tentu saja harus disetujui oleh penerjemah. Jangan sampai kekurangan-kekurangan yang terjadi akibat perubahan dari orang lain tanpa pengetahuan penerjemah ditanggungkan padanya kelak bila terjemahan itu sudah diterbitkan.

7. Pembicaraan (discussing)
Cara yang baik untuk mengakhiri proses penerjemahan ialah penerjemah mendiskusikan hasil terjemahannya, baik menyangkut isinya maupun menyangkut bahasanya. Memang tidak perlu sebuah panitia untuk memperbaiki hasil terjemahan. Terlalu banyak orang yang berbicara, hanya akan merusakkan. ‚Terlalu banyak koki hanya akan merusakkan kaldu,‛ kata Nida dan Taber.

Selain itu terdapat Langkah-langkah penting dalam proses penerjemahan. Apa saja yang perlu diperhatikan dalam melakukan proses penerjemahan? Mungkin ada beberapa tips di bawah ini yang baru bagi anda:
1.     Terjemahkan kalimat sesuai dengan gaya bahasa yang akan diterjemahkan.
2.     Perhatikan konsistensi dari peristilahan yang sering digunakan.
3.     Setelah suatu dokumen diterjemahkan semua, gunakan waktu untuk membaca seluruh dokumen yang sudah diterjemahkan dengan hati-hati tanpa membandingkannya dengan dokumen asli untuk memastikan bahwa kalimat-kalimatnya dapat dimengerti dengan jelas dan tidak bermakna ganda.
4.     Minta orang lain yang tidak menerjemahkan dokumen yang anda buat, untuk memastikan bahwa mereka juga mengerti dokumen yang diterjemahkan dengan jelas dan tidak memiliki pengertian ganda.
5.     Kejanggalan dan pengertian yang berbeda antara si penerjemah dengan si pembaca harus diselesaikan melalui meeting sebelum hasil terjemahan diserahkan ke klien.

Nida dan Taber (1969: 33), dikutip dalam Novianti (2005: 16), membagi proses penerjemahan ke dalam tiga tahapan:
1) Analisis pesan pada bahasa sumber;
2) Transfer, dan;
3) Rekonstruksi pesan yang ditransfer ke dalam bahasa target.

No comments:

Post a Comment