Waktu ibarat anak panah, sekali terlepas dari busurnya, melesat cepat
dan mustahil akan kembali. Waktu yang telah berlalu hanya tinggal masa lalu dan
sejarah. Tak ada seorangpun yang mampu kembali kemasa lalu. Waktu-waktu untuk
bersujud yang tidak dimanfaatkan dengan baik tidak akan terganti sebagaimana
layaknya.
Waktu juga bagaikan pedang, jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan
bijak, akan melukai bahkan dapat menjadi senjata yang mematikan.
Walaupun sebagian manusia yang mengandaikan waktu layaknya uang. Mereka
mengatakan bahwa “waktu adalah uang”. Pengandaian ini tidak tepat bagi kaum
mulslimin tapi tidak sepenuhnya salah. Jika kita melihat dari sudut pandang
yang baik, maka mereka yang mampu memanfaatkan waktu efektif dan efisien sesuai
dengan porsinya, akan memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat.
Tapi jika dipandang dari sudut pandang materialistik, maka mereka yang
berprinsip seperti ini, takut kehilangan waktu yang digunakan untuk mencari
materi tanpa peduli bahwa materi yang mereka kejar sering kali melalaikan
mereka untuk bersujud kepada Sang pemberi rezeki.
Manusia dengan segudang aktivitasnya sering lupa bahwa jarum jam tak
pernah berhenti merangkak detik demi detik. Mereka sibuk dan bersedia
menghabiskan waktu, mencucurkan keringat, membanting tulang, mencurahkan
pikiran untuk sekedar mengumpulkan harta, mengejar popularitas, memperebutkan
tahta yang sifatnya hanya sementara yang akan berakhir seiring waktu dan atau
berakhirnya jatah hidupnya. Mereka tidak perduli dengan tugasnya untuk bersujud
sebagai hamba yang justru akan menyelamatkannya disaat tidak ada lagi kekuatan
dan daya selain kasih sayang dan keridhaan dari Sang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.
Jika saja manusia mau mentadabburi bait demi bait dari lantunan adzan,
maka akan tergambar jelas kemahakuasaan Allah, dan bagi mereka yang bersandar
kepada Allah akan memperoleh kemenangan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allah yang Maha Besar, tidak ada satupun mahluk-Nya yang melebihi kebesaran-Nya.
Kekuasaan-Nya meliputi semesta alam. Yang menguasai kerajaan langit dan bumi.
Yang maha mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallahu.
Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat tauhid ini menegaskan sebuah
pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada satupun zat lain
yang bisa disembah kecuali
Allah. Allah yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak
dapat disetarakan dengan mahluk-Nya.
Asyhadu Anna Muhammadan
Rasulullah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Persaksian ini
menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia terbaik pilihan Allah
yang menjadi uswatun khasanah sekaligus
menjadi rahmatan lil alamin. Dalam
sebuah buku yang sangat populer karya seorang ilmuwan non muslim menempatkan
Muhammad SAW sebagai tokoh terbaik dan utama dari 100 tokoh berpengaruh di
dunia.
Hayya Alas Shalah. Mari
mendirikan shalat. Mendirikan shalat bukan hanya sekedar mengerjakan sebagai
penggugur kewajiban, tapi lebih dari itu, pengejewantahan nilai-nilai shalat
jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata, maka shalat yang didirikan dengan
sempurna akan menjadi benteng kokoh dalam menghindari perbuatan keji dan
mungkar. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, maka shalat yang didirikan
berdasarkan syariatnya akan memberikan efek positif bagi kesehatan manusia.
Shalat juga merupakan tiang agama, sebagai pembeda dengan penganut
agama lain. Mereka yang mendirikan shalat berarti telah mengokohkan agamanya, dan
bagi mereka yang tidak mendirikan shalat sama halnya mereka telah meruntuhkan
agamanya.
Hayya Alal Falah. Mari
merebut kemenangan. Manusia yang mendirikan shalat karena panggilan iman
merupakan pemenang dalam pergulatan melawan hawa nafsu. Mereka mampu menyingkirkan
ego duniawi dengan segala kesenanangannya menuju kepada hakikat penciptaannya yakni
beribadah kepada Allah sang khalik. Kemenangan ini tidak hanya di dunia tapi
juga kemenangan ketika mereka melalui fase-fase perjalanan menuju alam
keabadian yang puncak dari semuanya yaitu ketika shalatnya menjadi miftahul jannah (kunci syurga).
Allahu Akbar, Allahu Akbar.
Allah yang Maha Besar, Pengakuan akan kebesaran Allah kembali dipertegas. Bahwa
Allah benar-benar Maha Besar. Tempat manusia menyandarkan harapan, pinta, dan
do'a. Tempat manusia berharap ridho dan kasih sayang. Tempat manusia
menggantungkan hidupnya disaat suka maupun duka.
Sebagian besar manusia bersandar pada mahluk, sementara mahluk adalah
zat yang lemah dan mempunyai keterbatasan, meminta solusi pada manusia lain,
sementara setiap manusia mempunyai masalah yang cukup rumit. Padahal Allah
adalah satu-satunya zat yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tempat
bersandar yang tak rapuh, tempat meminta yang tak pernah lelah untuk memberi. Lalu
mengapa manusia enggan untuk menyakini bahwa Allah maha besar?.
Laa Ilaaha Illallahu. Tidak
ada Tuhan selain Allah. Hanya kepada Allah manusia menyembah dan meminta
pertolongan. Tidak ada satupun yang berkuasa dan berkehendak atas sesuatu
selain Allah yang Maha berkuasa atas segala sesuatu. Kesenangan yang diperoleh
dan dipertontonkan oleh mereka yang mempersekutukan Allah hanyalah topeng. Padahal
hakikatnya, mereka menemui kehampahaan, kerisauan, kecemasan, dan kegelisahan
yang amat mendalam.
Begitu indahnya panggilan ini. Namum mengapa banyak manusia yang lalai?
Mereka kebanyakan lebih tertarik pada lagu-lagu dengan bait-bait kemaksiatan,
pertentangan, hura-hura, dan pelemahan jiwa. Yang dari segi makna saja sudah
tidak mempunyai nilai dan moral.
Tuhan hanya ada di sisa waktu.
Seringkali Tuhan baru ada ketika manusia diperhadapkan pada masalah,
musibah, kerugian, malapetaka, kehancuran, dan lain sebagainya. Dimana Tuhan
ketika mereka diberi waktu, kesehatan, dan
kesenangan? Mengapa Tuhan hanya ada di sisa waktu?
Pada hakekatnya Allah tidak membutuhkan mahluk-Nya. Tanpa mahluk, Allah
tetaplah Tuhan. Allah tidak memerintahkan banyak kepada mahluk-Nya. Allah hanya
ingin mahluk-Nya menyadari hakikat penciptaannya. Allah tidak meminta bayaran
dari segala fasilitas yang diberikan kepada mahluk-Nya. Masih belum cukupkah
kasih sayang Allah? Masih belum cukup pemurahkah Allah kepada mahluk-Nya? lalu,
Mengapa Allah hanya ada di sisa waktu?
Manusia menghabiskan waktu hanya untuk mempercantik penampilan dan
memperbanyak harta kekayaan duniawi. Mengumpulkan harta dan bermegah-megahan
telah melalaikan mereka. Mereka mengira bahwa semua itu dapat menyelamatkan
mereka. Sekali-kali tidak. Jangankan di hari kemudian, pada saat sakaratul maut saja, harta yang mereka
kumpulkan, jabatan yang mereka perebutkan, kekuatan yang mereka banggakan,
bahkan orang-orang yang mereka sayangi tidak akan menolong mereka.
Selain itu, mereka jarang bahkan hampir tidak pernah menata hati.
Padahal hati adalah lentera menuju sang pencipta, Allah rabbul alamiin.
Dua hal yang menyebabkan manusia menempatkan Allah disisa waktu, yakni
tidak bersabar atas ketetapan-Nya dan tidak bersyukur atas pemberian-Nya.
Manusia yang bersabar atas ketidak nyamanan ketetapan-Nya akan menerima
dengan ikhlas segala apa yang terjadi dan menimpanya. Tidak akan menjadikan
peristiwa itu sebagai penyebab keputus asaannya. Senantiasa bersandar hanya kepada
Allah. Mereka yakin bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Bukankah Allah
telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan? Ada baik ada buruk, ada
susah ada senang, ada sedih ada gembira, ada tangis ada tawa, dan lain
sebagainya. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada
hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Manusia yang bersyukur atas pemberian-Nya akan menggunakan segala apa
yang diperoleh dijalan yang semestinya. Terus menambah keimanannya, bahwa Allah
benar-benar maha pengasih lagi maha penyayang. Kemudahan dan kelebihan yang
mereka miliki tidak lalu menjadikan mereka terlena dan lupa diri lalu
mengkufuri nikmat yang telah dianugrahkan kepadanya.
Sebagai ilustrasi. Ada seorang pemuda yang diajak ke masjid untuk
menunaikan shalat. Pemuda itu menolak dengan jawaban "Saya belum bisa ke
masjid karena saya masih mengerjakan segala sesuatu sendirian. Nantilah bila
saya telah mempunyai pasangan hidup, saya baru bisa ke masjid". Setelah
mempunyai pendamping, pemuda itu diajak lagi ke masjid. Jawabannya adalah
"Waduh istri saya orangnya penakut. Nanti bila kami mempunyai anak, ada
yang menemani istri saya, saya akan ke masjid". Begitu diberi anak oleh
Allah, diajak lagi ke masjid, tetap saja memberi alasan, "Maaf saya belum
bisa ke masjid, anak kami rewel betul, ibunya kerepotan mengurusnya sendiri.
Mudah-mudahan jika anak kami sudah besar, saya berkesempatan ke masjid. Saat
anak mereka sudah besar, masih saja ada alasan yang dibuatnya. Katanya
"Anak kami sudah besar, tapi ibunya hamil lagi, saya tidak tega
meninggalkannya dalam keadaan hamil".
Lalu kapan kesempatan itu ada? Bukankah hidup ini terus berjalan dengan
berbagai kesibukan dan alasan? dan mengapa Tuhan hanya ada di sisa waktu?
Andaisaja manusia mau sejenak menggunakan mata hatinya untuk merenungi
hakekat penciptaannya, memikirkan proses pergantian siang dan malam, menyaksikan
fenomena alam dan berbagai tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam ini,
maka mereka akan takjub akan kemaha
kuasaan Allah.
Baca juga postingan saya yang lain:
1. Root, stem, basis dalam kajian morfology pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/03/root-stem-and-bases.html
2. morpheme, morp, allomorph pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/03/morpheme-morph-alllomorph.html
3. Konsep dasar morfologi pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/02/konsep-dasar-morfologi-terdapat.html
4. Anjungan pantai Manakarra Sulbar pada http://kadaruddinemy.blogspot.com/2017/02/pantai-sulbar.html
5. Keterampilan mengajar padahttps://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/01/keterampilan-mengajar.html
6. Tuhan disia waktuku Part 2 pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2016/12/tuhan-disisa-waktuku-part-2.html
7. Tuhan disisa waktuku Part 1 pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2016/12/tuhan-di-sisa-waktuku.html
8. Media dan multimedia pembelajaran pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/03/media-dan-multimedia-pembelajaran.html
8. Media dan multimedia pembelajaran pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/03/media-dan-multimedia-pembelajaran.html
dan lain-lain di https://kadaruddinemy.wordpress.com/
ada part 3 nya pak ini cerita Tuhan Disisa Waktuku.?
ReplyDelete