Wednesday, December 21, 2016

Tuhan disisa waktuku part 2

Waktu ibarat anak panah, sekali terlepas dari busurnya, melesat cepat dan mustahil akan kembali. Waktu yang telah berlalu hanya tinggal masa lalu dan sejarah. Tak ada seorangpun yang mampu kembali kemasa lalu. Waktu-waktu untuk bersujud yang tidak dimanfaatkan dengan baik tidak akan terganti sebagaimana layaknya.
Waktu juga bagaikan pedang, jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan bijak, akan melukai bahkan dapat menjadi senjata yang mematikan.
Walaupun sebagian manusia yang mengandaikan waktu layaknya uang. Mereka mengatakan bahwa “waktu adalah uang”. Pengandaian ini tidak tepat bagi kaum mulslimin tapi tidak sepenuhnya salah. Jika kita melihat dari sudut pandang yang baik, maka mereka yang mampu memanfaatkan waktu efektif dan efisien sesuai dengan porsinya, akan memperoleh keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat. Tapi jika dipandang dari sudut pandang materialistik, maka mereka yang berprinsip seperti ini, takut kehilangan waktu yang digunakan untuk mencari materi tanpa peduli bahwa materi yang mereka kejar sering kali melalaikan mereka untuk bersujud kepada Sang pemberi rezeki.
Manusia dengan segudang aktivitasnya sering lupa bahwa jarum jam tak pernah berhenti merangkak detik demi detik. Mereka sibuk dan bersedia menghabiskan waktu, mencucurkan keringat, membanting tulang, mencurahkan pikiran untuk sekedar mengumpulkan harta, mengejar popularitas, memperebutkan tahta yang sifatnya hanya sementara yang akan berakhir seiring waktu dan atau berakhirnya jatah hidupnya. Mereka tidak perduli dengan tugasnya untuk bersujud sebagai hamba yang justru akan menyelamatkannya disaat tidak ada lagi kekuatan dan daya selain kasih sayang dan keridhaan dari Sang Maha Kuasa dan Maha Perkasa.
Jika saja manusia mau mentadabburi bait demi bait dari lantunan adzan, maka akan tergambar jelas kemahakuasaan Allah, dan bagi mereka yang bersandar kepada Allah akan memperoleh kemenangan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allah yang Maha Besar, tidak ada satupun mahluk-Nya yang melebihi kebesaran-Nya. Kekuasaan-Nya meliputi semesta alam. Yang menguasai kerajaan langit dan bumi. Yang maha mengetahui segala sesuatu, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.
Asyhadu Allaa Ilaaha Illallahu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Kalimat tauhid ini menegaskan sebuah pengakuan bahwa hanya Allah yang berhak disembah. Tidak ada satupun zat lain yang bisa disembah kecuali Allah. Allah yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak dapat disetarakan dengan mahluk-Nya.
Asyhadu Anna Muhammadan Rasulullah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah rasul Allah. Persaksian ini menegaskan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia terbaik pilihan Allah yang menjadi uswatun khasanah sekaligus menjadi rahmatan lil alamin. Dalam sebuah buku yang sangat populer karya seorang ilmuwan non muslim menempatkan Muhammad SAW sebagai tokoh terbaik dan utama dari 100 tokoh berpengaruh di dunia.
Hayya Alas Shalah. Mari mendirikan shalat. Mendirikan shalat bukan hanya sekedar mengerjakan sebagai penggugur kewajiban, tapi lebih dari itu, pengejewantahan nilai-nilai shalat jika diaplikasikan dalam kehidupan nyata, maka shalat yang didirikan dengan sempurna akan menjadi benteng kokoh dalam menghindari perbuatan keji dan mungkar. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, maka shalat yang didirikan berdasarkan syariatnya akan memberikan efek positif bagi kesehatan manusia.
Shalat juga merupakan tiang agama, sebagai pembeda dengan penganut agama lain. Mereka yang mendirikan shalat berarti telah mengokohkan agamanya, dan bagi mereka yang tidak mendirikan shalat sama halnya mereka telah meruntuhkan agamanya.
Hayya Alal Falah. Mari merebut kemenangan. Manusia yang mendirikan shalat karena panggilan iman merupakan pemenang dalam pergulatan melawan hawa nafsu. Mereka mampu menyingkirkan ego duniawi dengan segala kesenanangannya  menuju kepada hakikat penciptaannya yakni beribadah kepada Allah sang khalik. Kemenangan ini tidak hanya di dunia tapi juga kemenangan ketika mereka melalui fase-fase perjalanan menuju alam keabadian yang puncak dari semuanya yaitu ketika shalatnya menjadi miftahul jannah (kunci syurga).
Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allah yang Maha Besar, Pengakuan akan kebesaran Allah kembali dipertegas. Bahwa Allah benar-benar Maha Besar. Tempat manusia menyandarkan harapan, pinta, dan do'a. Tempat manusia berharap ridho dan kasih sayang. Tempat manusia menggantungkan hidupnya disaat suka maupun duka.
Sebagian besar manusia bersandar pada mahluk, sementara mahluk adalah zat yang lemah dan mempunyai keterbatasan, meminta solusi pada manusia lain, sementara setiap manusia mempunyai masalah yang cukup rumit. Padahal Allah adalah satu-satunya zat yang memiliki kekuasaan yang tak terbatas, tempat bersandar yang tak rapuh, tempat meminta yang tak pernah lelah untuk memberi. Lalu mengapa manusia enggan untuk menyakini bahwa Allah maha besar?.
Laa Ilaaha Illallahu. Tidak ada Tuhan selain Allah. Hanya kepada Allah manusia menyembah dan meminta pertolongan. Tidak ada satupun yang berkuasa dan berkehendak atas sesuatu selain Allah yang Maha berkuasa atas segala sesuatu. Kesenangan yang diperoleh dan dipertontonkan oleh mereka yang mempersekutukan Allah hanyalah topeng. Padahal hakikatnya, mereka menemui kehampahaan, kerisauan, kecemasan, dan kegelisahan yang amat mendalam.
Begitu indahnya panggilan ini. Namum mengapa banyak manusia yang lalai? Mereka kebanyakan lebih tertarik pada lagu-lagu dengan bait-bait kemaksiatan, pertentangan, hura-hura, dan pelemahan jiwa. Yang dari segi makna saja sudah tidak mempunyai nilai dan moral.
Tuhan hanya ada di sisa waktu.
Seringkali Tuhan baru ada ketika manusia diperhadapkan pada masalah, musibah, kerugian, malapetaka, kehancuran, dan lain sebagainya. Dimana Tuhan ketika mereka diberi waktu, kesehatan, dan  kesenangan? Mengapa Tuhan hanya ada di sisa waktu?
Pada hakekatnya Allah tidak membutuhkan mahluk-Nya. Tanpa mahluk, Allah tetaplah Tuhan. Allah tidak memerintahkan banyak kepada mahluk-Nya. Allah hanya ingin mahluk-Nya menyadari hakikat penciptaannya. Allah tidak meminta bayaran dari segala fasilitas yang diberikan kepada mahluk-Nya. Masih belum cukupkah kasih sayang Allah? Masih belum cukup pemurahkah Allah kepada mahluk-Nya? lalu, Mengapa Allah hanya ada di sisa waktu?
Manusia menghabiskan waktu hanya untuk mempercantik penampilan dan memperbanyak harta kekayaan duniawi. Mengumpulkan harta dan bermegah-megahan telah melalaikan mereka. Mereka mengira bahwa semua itu dapat menyelamatkan mereka. Sekali-kali tidak. Jangankan di hari kemudian, pada saat sakaratul maut saja, harta yang mereka kumpulkan, jabatan yang mereka perebutkan, kekuatan yang mereka banggakan, bahkan orang-orang yang mereka sayangi tidak akan menolong mereka.
Selain itu, mereka jarang bahkan hampir tidak pernah menata hati. Padahal hati adalah lentera menuju sang pencipta, Allah rabbul alamiin.
Dua hal yang menyebabkan manusia menempatkan Allah disisa waktu, yakni tidak bersabar atas ketetapan-Nya dan tidak bersyukur atas pemberian-Nya.
Manusia yang bersabar atas ketidak nyamanan ketetapan-Nya akan menerima dengan ikhlas segala apa yang terjadi dan menimpanya. Tidak akan menjadikan peristiwa itu sebagai penyebab keputus asaannya. Senantiasa bersandar hanya kepada Allah. Mereka yakin bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Bukankah Allah telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan? Ada baik ada buruk, ada susah ada senang, ada sedih ada gembira, ada tangis ada tawa, dan lain sebagainya. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan membebankan sesuatu kepada hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Manusia yang bersyukur atas pemberian-Nya akan menggunakan segala apa yang diperoleh dijalan yang semestinya. Terus menambah keimanannya, bahwa Allah benar-benar maha pengasih lagi maha penyayang. Kemudahan dan kelebihan yang mereka miliki tidak lalu menjadikan mereka terlena dan lupa diri lalu mengkufuri nikmat yang telah dianugrahkan kepadanya.
Sebagai ilustrasi. Ada seorang pemuda yang diajak ke masjid untuk menunaikan shalat. Pemuda itu menolak dengan jawaban "Saya belum bisa ke masjid karena saya masih mengerjakan segala sesuatu sendirian. Nantilah bila saya telah mempunyai pasangan hidup, saya baru bisa ke masjid". Setelah mempunyai pendamping, pemuda itu diajak lagi ke masjid. Jawabannya adalah "Waduh istri saya orangnya penakut. Nanti bila kami mempunyai anak, ada yang menemani istri saya, saya akan ke masjid". Begitu diberi anak oleh Allah, diajak lagi ke masjid, tetap saja memberi alasan, "Maaf saya belum bisa ke masjid, anak kami rewel betul, ibunya kerepotan mengurusnya sendiri. Mudah-mudahan jika anak kami sudah besar, saya berkesempatan ke masjid. Saat anak mereka sudah besar, masih saja ada alasan yang dibuatnya. Katanya "Anak kami sudah besar, tapi ibunya hamil lagi, saya tidak tega meninggalkannya dalam keadaan hamil".
Lalu kapan kesempatan itu ada? Bukankah hidup ini terus berjalan dengan berbagai kesibukan dan alasan? dan mengapa Tuhan hanya ada di sisa waktu?

Andaisaja manusia mau sejenak menggunakan mata hatinya untuk merenungi hakekat penciptaannya, memikirkan proses pergantian siang dan malam, menyaksikan fenomena alam dan berbagai tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam ini, maka  mereka akan takjub akan kemaha kuasaan Allah.

Baca juga postingan saya yang lain:
1. Root, stem, basis dalam kajian morfology pada https://kadaruddinemy.blogspot.co.id/2017/03/root-stem-and-bases.html
4. Anjungan pantai Manakarra Sulbar pada http://kadaruddinemy.blogspot.com/2017/02/pantai-sulbar.html

1 comment: